Sabtu, 14 April 2012

AKIDAH MENURUT AJARAN NABI Oleh: Hasan Husen Assagaf Syarah kitab: Al-Aqa’id Ad-Diniyyah Karya: Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-‘Alawi Al-Husaini Al-Syafi’i Al- Asy’ari Ilmu Tauhid ﺍﻟﺪﺭﺱ ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺪﻣﺔ : ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻟﻐﺔ ﺟﻌﻞ ﺍﻟﺸﻴﺊ ﻭﺍﺣﺪ ﻭ ﺍﺻﺘﻼﺣﺎ ﻫﻮ ﻋﻠﻢ ﻳﺒﺤﺚ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ ﺇﺛﺒﺎﺏ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺍﻟﻤﻜﺘﺴﺐ ﻣﻦ ﺃﺩﻟﺘﻬﺎ ﺍﻟﻴﻘﻴﻨﻴﺔ . ﺛﻤﺮﻩ : ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﺒﺮﺍﻫﻴﻦ ﺍﻟﻘﻄﻌﻴﺔ ﻭﺇﺛﺒﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻜﻤﺎﻝ ﻭ ﺗﻨﺰﻳﻬﻪ ﻋﻦ ﺳﻤﺎﺕ ﺍﻟﻨﻘﺺ ﻭ ﺍﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺑﺮﺳﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ . ﻣﻮﺿﻮﻋﻪ : ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭ ﺫﺍﺕ ﺭﺳﻠﻪ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﻭ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ ﻭ ﻣﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﻭ ﺍﻟﻤﻤﻜﻦ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺻﺎﻧﻌﻪ ﻭ ﺍﻟﺴﻤﻌﻴﺎﺕ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻫﺎ . ﻭﺍﺿﻌﻪ : ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻭ ﺭﺗﺒﻪ ﻭ ﺃﻟﻒ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﻣﺎﻣﺎﻥ : ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ ﻭ ﻣﺘﺎﺑﻌﻮﻩ ﻭﺃﺑﻮ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﻤﺎﺗﻮﺭﻳﺪﻱ ﻭﻣﺘﺎﺑﻌﻮﻩ . ﺣﻜﻤﻪ : ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﺍﻟﻌﻴﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﻜﻠﻒ ﺫﻛﺮﺍ ﻭ ﺃﻧﺜﻰ ﻭ ﻟﻮ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻹﺟﻤﺎﻟﻲ PELAJARAN PERTAMA: ILMU TAUHID SYARAH: Tauhid dalam bahasa artinya menjadikan sesuatu esa. Yang dimaksud disini adalah mempercayai bahwa Allah itu esa. Sedangkan secara istilah ilmu Tauhid ialah ilmu yang membahas segala kepercayaan- kepercayaan yang diambil dari dalil dalil keyakinan dan hukum-hukum di dalam Islam termasuk hukum mempercayakan Allah itu esa. Seandainya ada orang tidak mempercayai keesaan Allah atau mengingkari perkara- perkara yang menjadi dasar ilmu tauhid, maka orang itu dikatagorikan bukan muslim dan digelari kafir. Begitu pula halnya, seandainya seorang muslim menukar kepercayaannya dari mempercayai keesaan Allah, maka kedudukannya juga sama adalah kafir. Perkara dasar yang wajib dipercayai dalam ilmu tauhid ialah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup terang dan kuat yang terdapat di dalam Al Quran atau Hadis yang shahih. Perkara ini tidak boleh dita’wil atau ditukar maknanya yang asli dengan makna yang lain. Tujuan mempelajari ilmu tauhid adalah mengenal Allah dan rasul-Nya dengan dalil dalil yang pasti dan menetapkan sesuatu yang wajib bagi Allah dari sifat sifat yang sempurna dan mensucikan Allah dari tanda tanda kekurangan dan membenarkan semua rasul rasul Nya. Adapun perkara yang dibicarakan dalam ilmu tauhid adalah dzat Allah dan dzat para rasul Nya dilihat dari segi apa yang wajib (harus) bagi Allah dan Rasul Nya, apa yang mustahil dan apa yang jaiz (boleh atau tidak boleh) Jelasnya, ilmu Tauhid terbagi dalam tiga bagian: 1. Wajib 2. Mustahil 3. Jaiz (Mungkin) ------------------------------------ 1- WAJIB Wajib dalam ilmu Tauhid berarti menentukan suatu hukum dengan mempergunakan akal bahwa sesuatu itu wajib atau tidak boleh tidak harus demikian hukumnya. Hukum wajib dalam ilmu tauhid ini ditentukan oleh akal tanpa lebih dahulu memerlukan penyelidikan atau menggunakan dalil. Contoh yang ringan, uang seribu 1000 rupiah adalah lebih banyak dari 500 rupiah. Artinya akal atau logika kita dapat mengetahui atau menghukum bahwa 1000 rupiah itu lebih banyak dari 500 rupiah. Tidak boleh tidak, harus demikian hukumnya. Contoh lainnya, seorang ayah usianya harus lebih tua dari usia anaknya. Artinya secara akal bahwa si ayah wajib atau harus lebih tua dari si anak Ada lagi hukum wajib yang dapat ditentukan bukan dengan akal tapi harus memerlukan penyelidikan yang rapi dan cukup cermat. Contohnya, Bumi itu bulat. Sebelum akal dapat menentukan bahwa bumi itu bulat, maka wajib atau harus diadakan dahulu penyelidikan dan mencari bukti bahwa bumi itu betul betul bulat. Jadi akal tidak bisa menerima begitu saja tanpa penyelidikan lebih dahulu. Contoh lainnya, sebelum akal menghukum dan menentukan bahwa ”Allah wajib atau harus ada”, maka harus diadakan dahulu penyelidikan yang rapi yang menunjukkan kewujudan atau keberadaan bahwa Allah itu wajib ada. Tentu hal ini perlu dibantu dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al Quran. 2- MUSTAHIL Mustahil dalam ilmu tauhid adalah kebalikan dari wajib. Mustahil dalam ilmu tauhid berarti akal mustahil bisa menentukan dan mustahil bisa menghukum bahwa sesuatu itu harus demikian. Hukum mustahil dalam ilmu tauhid ini bisa ditentukan oleh akal tanpa lebih dahulu memerlukan penyelidikan atau menggunakan dalil. Contohnya , uang 500 rupiah mustahil lebih banyak dari 1000 rupiah. Artinya akal atau logika kita dapat mengetahui atau menghukum bahwa 500 rupiah itu mustahil akan lebih banyak dari1000 rupiah. Contoh lainnya, usia seorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya. Artinya secara akal bahwa seorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya. Sebagaimana hukum wajib dalam Ilmu Tauhid, hukum mustahil juga ada yang ditentukan dengan memerlukan penyelidikan yang rapi dan cukup cermat. Contohnya: Mustahil bumi ini berbentuk tiga segi. Jadi sebelum akal dapat menghukum bahwa mustahil bumi ini berbentuk segi tiga, perkara tersebut harus diselidik dengan cermat yang bersenderkan kepada dalil kuat. Contoh lainnya: Mustahil Allah boleh mati. Jadi sebelum akal dapat menghukum bahwa mustahil Allah boleh mati atau dibunuh, maka perkara tersebut hendaklah diselidiki lebih dahulu dengan bersenderkan kepada dalil yang kuat. 3- JAIZ (MUNGKIN): Apa arti Jaiz (mungkin) dalam ilmu Tauhid? Jaiz (mungkin) dalam ilmu tauhid ialah akal kita dapat menentukan atau menghukum bahwa sesuatu benda atau sesuatu dzat itu boleh demikian keadaannya atau boleh juga tidak demikian. Atau dalam arti lainya mungkin demikian atau mungkin tidak. Contohnya: penyakit seseorang itu mungkin bisa sembuh atau mungkin saja tidak bisa sembuh. Seseorang adalah dzat dan sembuh atau tidaknya adalah hukum jaiz (mungkin). Hukum jaiz (Mungkin) disini, tidak memerlukan hujjah atau dalil. Contoh lainya: bila langit mendung, mungkin akan turun hujan lebat, mungkin turun hujan rintik rintik, atau mungkin tidak turun hujan sama sekali. Langit mendung dan hujan adalah dzat, sementara lebat, rintik rintik atau tidak turun hujan adalah Hukum jaiz (Mungkin). Seperti hukum wajib dan mustahil, hukum jaiz (mungkin) juga kadang kandang memerlukan bukti atau dalil. Contohnya manusia mungkin bisa hidup ratusan tahun tanpa makan dan minum seperti terjadi pada kisah Ashabul Kahfi yang tertera dalam surat al-Kahfi. Kejadian manusia bisa hidup ratusan tahun tanpa makan dan minum mungkin terjadi tapi kita memerlukan dalil yang kuat diambil dari al-Qur’an.. Contoh lainnya: rumah seseorang dari di satu tempat mungkin bisa berpindah dengan sekejap mata ke tempat yang lain yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat asalnya seperti terjadi dalam kisah nabi Sulaiman as telah memindahkan istana Ratu Balqis dari Yaman ke negara Palestina yang jaraknya ribuan kilo meter. Kisah ini sudah barang tentu memerlukan dalil yang diambil dari al- Qu’ran.

AKIDAH MENURUT AJARAN NABI Oleh: Hasan Husen Assagaf Syarah kitab: Al-Aqa’id Ad-Diniyyah Karya: Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-‘Alawi Al-Husaini Al-Syafi’i Al- Asy’ari --------------------------------------- Sifat Qidam – ﺍﻟﻘﺪﻡ : ﻫﻮ ﺻﻔﺔ ﺳﻠﺒﻴﺔ ﻷﻧﻬﺎ ﺳﻠﺒﺖ ﻭ ﻧﻔﺖ ﺃﻭﻟﻴﺔ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ ، ﻭ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻧﻪ ﻗﺪﻳﻢ ﻻ ﺃﻭﻝ ﻟﻮﺟﻮﺩﻩ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ } : ﻫُﻮَ ﭐﻷَﻭَّﻝُ ﻭَﭐﻵﺧِﺮُ ﻭَﭐﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﭐﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ { ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻧﻪ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻟﻜﺎﻥ ﺣﺎﺩﺛﺎ ﻭ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺣﺎﺩﺛﺎ ﻻﻓﺘﻘﺮ ﺍﻟﻰ ﻣﺤﺪﺙ ﻭ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﻣﺤﺪﺛﻪ ﺍﻟﻰ ﻣﺤﺪﺙ ﺍﻳﻀﺎ ﻭ ﻟﻮﻛﺎﻥ ﻛﺬﻟﻚ ﻟﻠﺰﻡ ﺍﻟﺪﻭﺭ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺴﻠﺴﻞ ﻭ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﺴﺘﺤﻴﻞ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺪﻳﻢ ﻻ ﺃﻭﻝ ﻟﻮﺟﻮﺩﻩ ﻭ ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺤﺪﻭﺙ 2- QIDAM Qidam (dahulu) adalah sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah. Sifat qidam artinya sifat yang mencabut atau menolak adanya permulaan wujud Allah. Dalam arti lain bahwa Allah itu berada tanpa adanya permulaan. Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah pasti lebih dahulu sebelum ciptaan-Nya. Kebalikannya adalah huduts (Baru) yaitu mustahil Allah itu baru dan memiliki permulaan. Allah itu dahulu tanpa awal, tidak berasal dari ”tidak ada” kemudian menjadi ”ada”. ﻫُﻮَ ﭐﻷَﻭَّﻝُ ﻭَﭐﻵﺧِﺮُ ﻭَﭐﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﭐﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ Allah berfirman: “ Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Hadiid:3) Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia. Allah adalah awal. Dia sudah berada sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Allah itu baru ada atau lahir setelah makhluk lainnya ada. Adanya Allah berbeda dengan adanya alam semesta beserta isinya. Perbedaan tsb terdapat pada kejadian dan prosesnya. Kita ambil contoh: Adanya manusia didahului oleh proses perkawinan. Terjadinya hujan karena didahului dengan proses penguapan air laut. Dan adanya seluruh alam semesta didalului oleh preses terjadinya alam tersebut. Tapi Allah berbeda dengan alam semesta ini, tidak didahului oleh sebab- sebab tertentu, karena Allah dzat yang paling awal. Allah adalah pencipta alam semesta, mustahil alam semesta lebih dulu ada dari Allah.

AKIDAH MENURUT AJARAN NABI Oleh: Hasan Husen Assagaf Syarah kitab: Al-Aqa’id Ad-Diniyyah Karya: Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-‘Alawi Al-Husaini Al-Syafi’i Al- Asy’ari --------------------------------------- Wujud ﺍﻟﺪﺭﺱ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ - ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ : ﻫﻮ ﺻﻔﺔ ﻧﻔﺴﻴﺔ ، ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻮﺟﻮﺩﺍ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻣﺤﻘﻘﺎ ﻻ ﺷﻚ ﻓﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ } ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﭐﻟﺴَﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﭐﻷَﺭْﺽَ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺛُﻢَّ ﭐﺳْﺘَﻮَﻯٰ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻳُﻐْﺸِﻲ ﭐﻟْﻠَّﻴْﻞَ ﭐﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻳَﻄْﻠُﺒُﻪُ ﺣَﺜِﻴﺜﺎً ﻭَﭐﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﭐﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻭَﭐﻟﻨُّﺠُﻮﻡَ ﻣُﺴَﺨَّﺮَﺍﺕٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻻَ ﻟَﻪُ ﭐﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻭَﭐﻷَﻣْﺮُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺏُّ ﭐﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ { ﻭ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺣﺪﻭﺙ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻷﻧﻪ ﻣﻼﺯﻡ ﻟﻸﻋﺮﺍﺽ ﺍﻟﺤﺎﺩﺛﺔ ﻭ ﻣﻼﺯﻡ ﺍﻟﺤﺎﺩﺙ ﺣﺎﺩﺙ ﻭ ﻛﻞ ﺣﺎﺩﺙ ﻻ ﺑﺪ ﻟﻪ ﻣﻦ ﻣﺤﺪﺙ PELAJARAN KEEMPAT: SIFAT SIFAT WAJIB SYARAH 1- WUJUD Wujud (ada) adalah sifat Nafsiyyah artinya sesungguhnya Allah itu ada dan keberadaan Nya itu pasti tidak diragukan lagi. Sifat ini juga menegaskan di mana Allah menjadi tidak ada tanpa adanya sifat tersebut. Wujud artinya ada dan sifat mustahilnya ‘Adam artinya tidak ada. Untuk membuktikan bahwa Allah itu ada bukan hal yang mudah, kecuali bagi orang-orang yang memiliki keimanan yang luhur. Memang kita tidak dapat melihat wujud Allah secara langsung, tetapi dengan menggunakan akal, kita dapat menyaksikan ciptaan-Nya. Dari mana alam semesta ini berasal? Pastilah ada yang menciptakannya. Tidak mungkin alam semesta ini jadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Untuk membuktikan bahwa Allah itu ada tergantung kepada pengetahun dan cara berfikir setiap orang. Ada orang yang pengetahuan dan cara berfikirnya sederhana, dia bisa membuktikan keberadaan Allah dengan dalil yang sangat sederhana pula. Contohnya seperti yang telah dikisahkan dalam pelajaran sebelumnya, pernah seorang Badui (Arab dari pegunungan) ditanya, ”Dari mana kau mengetahui bahwa Allah itu ada?”. Kebetulan di muka orang Badui tadi ada kotoran unta. Ia menjawab ”Apakah kau lihat kotoran unta ini? Setiap ada kotoran unta pasti ada untanya. Tidak mungkin kotoran unta itu berada dengan sendirinya” Sedangkan untuk kita yang hidup di abad serba canggih dan modern cara membuktikannya pula berbeda. Tentu kita melihat pesawat terbang, kereta api, mobil, komputer dan lain-lainnya, sesuatu yang tidak masuk akal jika semua itu terjadi dengan sendirinya. Ya sudah pasti ada pembuatnya. Bahkan sampai benda-benda yang sederhana saja seperti jarum ada yang membuatnya, tidak mungkin jarum itu jadi dengan sendirinya. Apalagi sekarang dunia sudah bertambah maju dan teknologi sudah jahuh semakin canggih. Karena kita tidak bisa melihat Allah, bukan berarti Allah itu tidak ada. Allah ada. Mesikpun kita tidak bisa melihat-Nya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya. Pernyataan bahwa Allah itu tidak ada hanya karena panca indera manusia yang sangat terbatas, karena Dia tidak bisa diraba dan tidak bisa dilihat, makanya kita tidak bisa mengetahui keberadaan Allah kecuali dengan bukti bukti ciptaan Nya. Tapi kalau kita pikirkan berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, kenyataannya benda itu ada? Betapa banyak benda benda di langit yang jaraknya milyaran kilo meter yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada? Berapa banyak dzat berukuran sangat kecil seperti molekul dan atom manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? Jadi benda benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Allah Pencipta benda benda tersebut. Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas di jalan raya. Setiap kendaraan ada pengemudinya. Tapi masih ada saja terdapat kecelakaan lalu lintas. Meskipun ada yang mengatur sedemikan rupa. Sedangkan bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain yang sudah beredar di angkasa raya milyaran tahun, belum pernah terjadi tabrakan. Belum pernah kita dengar ada bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada polisi yang mengatur lalu lintas jalan, atau pun pengemudi yang mengendarai. Jelasnya, tanpa ada Allah yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Allah yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan bagi masing- masing benda tersebut. Jika kita benar benar memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Allah itu ada ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﭐﻟﺴَﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﭐﻷَﺭْﺽَ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺛُﻢَّ ﭐﺳْﺘَﻮَﻯٰ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻳُﻐْﺸِﻲ ﭐﻟْﻠَّﻴْﻞَ ﭐﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻳَﻄْﻠُﺒُﻪُ ﺣَﺜِﻴﺜﺎً ﻭَﭐﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﭐﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻭَﭐﻟﻨُّﺠُﻮﻡَ ﻣُﺴَﺨَّﺮَﺍﺕٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻻَ ﻟَﻪُ ﭐﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻭَﭐﻷَﻣْﺮُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺏُّ ﭐﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ Allah berfirman: ”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah- Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.( Al-A’râf: 54).

Kamis, 07 Juli 2011

Diceritakan bahwa Nabi Musa as pernah keluar bersama Yusa' bin Nuun. Tiba-tiba ada seekor burung putih telah hinggap di pundak Nabi Musa. Berkatalah burung itu; Hai Nabi Allah, peliharalah aku hari ini dari pembunuhan. "Nabi Musa bertanya; "Dari siapa?" Burung itu menjawab. "Dari burung elang. Dia hendak memakan aku. "Masuklah burung putih itu kedalm saku baju Nabi Musa. Tiba2 elang datang dan berkata; "Hai Nabi Allah, janganlah engkau menghalangi aku dari buruanku.